× BerandaDaerahNasionalPolitikHukum kriminalInvestigasiSosial & BisnisWisataPutra Daerah

Dampak COVID-19 Penjualan Perumahan Bersubsudi di Sultra Turun Hingga 70 Persen

Jo Indra Yulianto, Jo Indra Yulianto,

Dampak COVID-19 Penjualan Perumahan Bersubsudi di Sultra Turun Hingga 70 Persen

KENDARI, (TEROPONGSULTRA) - Dampak dari penyebaran virus corona (COVID-19) sudah barang tentu akan berimbas kepada ekonomi dan bisnis Indonesia, tidak terkecuali pada bisnis properti.


Imbas dari kasus COVID-19 memberi dampak pada ekonomi dan pada akhirnya akan menurunkan buying power, karena kondisi ini merupakan efek dari wabah virus COVID-19 yang menimpah dunia khususnya disulawesi tenggara.


Griya Arini Permai, Salah satu develover yang ada di kota kendari melalui Direkturnya Jo Indra Yulianto, mengatakan saat ini penjualan rumah khususnya rumah subsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) menurun hingga 70 persen.

"Penjualan rumah pasti menurun. Bahkan kita sampai turun 70 persen. Selain ada masyarakat yang memang menahan minat membeli rumah, saat ini banyak juga para pekerja yang dirumahkan," katanya, kepada awak media 20/4/2020).

Ia mengatakan banyaknya pekerja yang dirumahkan membuat minat untuk membeli rumah tertahan. Jika sebelumnya masyarakat punya tabungan, saat ini kebanyakan memilih untuk wait and see.

"Banyak yang memilih jika ada uang untuk makan dulu yang utama. Sementara dari sektor informal juga tidak diakomodir dengan bank untuk kreditnya karena adanya pengumuman restrukturisasi kredit," katanya.

Hal ini, kata Jo Indra, membuat bank lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit karena ada resiko bagi perbankan.

"Kita dukung program pemerintah hanya saja seharusnya dibuat batasan aturan yang jelas dulu baru diumumkan. Saat ini bank juga tingkat kehati-hatiannya tinggi saat akan menyalurkan kredit. Ada resiko, takut nanti jika dicairkan kreditnya, besok malah minta restrukturisasi," ungkapnya.

Ia mengatakan meski penjualan rumah turun hingga 70 persen hingga saat ini pembangunan rumah bagi MBR masih terus dilakukan. Hal ini karena sudah ada kontrak, Selain itu unit-unit yang sudah terjual juga harus terus dibangun.

Dikatakannya, dalam pembangunan rumah, tidak ada kendala pada distribusi bahan-bahan. Hanya saja suplai bahan bangunan saat ini tidak lagi dilakukan sekaligus.

Namun yang menjadi kekhawatiran lainnya adalah terkait adanya larangan mengumpulkan banyak orang saat ini. Kata Jo Indra hal ini membuat pekerjaan tukang bangunan jadi ikut terbatasi juga.

"Kita minta kebijakan agar jangan dibatasi. Kami para Develover juga baru membuat standarisasi. Satu rumah cukup lima orang pekerja, masalahnya memang kita tidak mengerjakan satu rumah saja, bisa hingga 50 rumah," katanya.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus COVID-19, ia mengimbau seluruh anggotanya supaya melakukan penyemprotan secara mandiri ke proyeknya.

"Walaupun kondisinya seperti ini tapi masih bisa diantisipasi. Kita harus menghadapi semua ini sama-sama. Semua program pemerintah terkait virus COVID-19 kita dukung, social distancing juga kita lakukan dengan pembatasan tukang. Semoga wabah virus COVID-19 ini cepat berlalu," tutup Indra 

(TIM/RED)

loading...